Kebun madrasah yang sebelumnya merupakan lahan kosong kini dimanfaatkan sebagai media pembelajaran kontekstual. Para siswa terlibat langsung sejak proses pengolahan tanah, penanaman, perawatan, hingga panen jagung dan singkong. Melalui kegiatan ini, siswa tidak hanya belajar tentang pertanian sederhana, tetapi juga ditanamkan nilai-nilai keagamaan yang menekankan pentingnya menjaga dan merawat alam sebagai bagian dari amanah Allah SWT.
Kepala MIN 2 Boalemo, Ibu Lian Polapa, dalam penyampaiannya menegaskan bahwa kesadaran ekoteologi harus menjadi bagian dari kehidupan beragama. Ia menyampaikan, “Kesadaran ekoteologi harus menjadi bagian dari kehidupan beragama. Sebagai umat beragama, kita semua diminta untuk mewujudkan Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin, membawa keberkahan bagi seluruh alam semesta, bukan hanya bagi manusia. Mari kita mulai dengan semangat merawat alam sebagai bagian dari tanggung jawab moral dan spiritual kita.”
Lebih lanjut, Ibu Lian Polapa mendorong agar konsep ekoteologi dimainstreamkan dalam sistem pendidikan di madrasah melalui penguatan literasi lingkungan. Pemanfaatan lahan kosong untuk kegiatan produktif, seperti kebun jagung dan singkong, dinilai sebagai langkah strategis dalam membangun kesadaran ekologis peserta didik sejak dini. Penguatan literasi lingkungan ini diharapkan mampu membentuk karakter siswa yang peduli, bertanggung jawab, dan berakhlak terhadap alam.
Kegiatan panen hasil kebun ini menjadi bukti bahwa madrasah tidak hanya berfungsi sebagai tempat transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga sebagai ruang pembentukan karakter dan kepedulian sosial serta lingkungan. MIN 2 Boalemo berkomitmen untuk terus mengembangkan program-program berbasis ekoteologi sebagai bagian dari upaya menciptakan generasi yang beriman, berilmu, dan berwawasan lingkungan.

0 Comments:
Posting Komentar